SAMBUTAN WALIKOTA SAMARINDA
DALAM PERSIAPAN IMPLEMENTASI SPGDTS
(SISTEM PENANGANAN GAWAT DARURAT TERPADU SEHARI-HARI)
KOTA SAMARINDA 2013
(20 Nopember 2013)
Bismillahirrohmannirrohim
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Selamat Pagi Salam Sejahtera dan untuk kita semua.
o
Yth. Bapak/Ibu Narasumber dari RSU.AW Syahranie
o
Yth. Bapak/Ibu Narasumber dari Dinas Kesehatan Prov.Kaltim
o
Yth. Bapak/Ibu Narasumber dari PT. Telkom
o
Yth. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda
o
Yth. Ka. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran
o
Yth. Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Sekota Samarinda dan
o
Para Undangan dan hadirin yang saya hormati.
Marilah kita panjatkan
puji syukur ke hadirat “Allah Subhanahu
Wa Ta’ala “ Tuhan Yang Maha Kuasa
atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kita semua.
Sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka pertemuan Persiapan
Implementasi SPGDTS (Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu Sehari-hari) Kota
Samarinda.
Hadirin yang saya hormati,
Kota Samarinda
beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Suhu udara antara 24-32C, dengan
curah hujan rata-rata 162 mm, dan kelembaban udara rata-rata 82,7%. Dan
juga Kota Samarinda dibelah oleh sungai Mahakam. Penduduk Kota Samarinda sampai bulan Agustus
2013 tercatat sebanyak 950.919 jiwa. Dengan laju pertumbuhan 3-4% per tahun,
yang terdiri dari berbagai suku bangsa.
Hal ini berdampak pada potensial terjadinya berbagai macam bencana ,
seperti bencana di air dan bencana di
darat.
Untuk melakukan respon cepat terhadap kondisi kegawatdaruratan. Ini
perlu adanya sistem yang mapan, terorganisir. Selain itu perlu sumberdaya
manusia yang profesional dan didukung regulasi. SPGDT (Sistem Penanggulangan
Gawat darurat Terpadu) telah diterapkan di beberapa provinsi di Indonesia dan
dinilai sangat bermanfaat.
Dengan kegiatan ini diharapkan adanya
pemahaman yang benar mengenai konsep SPGDT. Selain itu diarahkan untuk
mendukung penurunan AKI / AKB serta sistem rujukan dalam kerangka akselerasi
implementasi BPJS 2014 di Kota Samarinda.
Hadirin yang saya hormati,
SPGDT ini harus diketahui secara luas oleh para pengambil kebijakan di
tingkat Kota Samarinda ataupun lintas sektor terkait sekaligus menyusun sistem
rujukan yang aplikable dan bisa diterapkan secara luas. Dinas Kesehatan
Kota Samarinda dan Rumah Sakit Rujukan dalam memerankan terwujudkan SPGDT di
Kota Samarinda sangat besar. Untuk itu pembentukan SPGDT dengan
koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan perlu segera direalisasikan.
Pengembangan SPGDT harus sejalan dengan Strategi
Pembangunan Nasional, yang di dalamnya mengacu pada :
1. Paradigma Sehat yaitu menjaga keseimbangan antara risk
management (upaya promotif dan preventif) dan disease
management (kuratif dan rehabilitatif).
2. Profesionalisme yaitu pengembangan SPGDT
berdasarkan standar yang disepakati secara profesional antara semua stakeholder terkait
dan didukung peran serta masyarakat.
3. Desentralisasi yaitu advokasi dan pemberdayaan
daerah untuk pengembangan SPGDT yang sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan
daerah (local specific).
4. Menata sistem pembiayaan yang efektif dan efisien.
SPGDT merupakan
koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai
kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan
pelayanan terpadu bagi penderita gawat darurat dalam keadaan sehari- hari
maupun dalam keadaan bencana
Hadirin yang saya hormati,
Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) harus diketahui secara luas oleh
para pengambil kebijakan di tingkat Kota Samarinda, Provinsi ataupun lintas
sektor terkait sekaligus menyusun sistem rujukan yang aplikable dan bisa
diterapkan secara luas untuk mendukung BPJS 2014
Hal yang cukup penting untuk segera dibentuk dalam mendukung SPGDT
adalah terbentuknya call center. Call center yang perlu diwujudkan di Kabupaten
/ Kota harus mampu menjawab dan mengarahkan kondisi kegawatdaruratan yang
terjadi, termasuk diimplementasikan untuk kegawatdaruratan obstetri neonatal
(SPGDT-S), untuk menurunkan AKI / AKB.
Call center dalam SPGDT merupakan keharusan, yang harus segera wujudkan.
Unsur penting yang harus tersedia : sarana komunikasi, SDM yang kompeten,
transportasi yang memadai serta dukungan pembiayaan untuk keberlangsungan
operasional SPGDT
Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Samarinda diharapkan juga
sudah terbentuk dalam sistem rujukan, sehingga program SPGDT akan terwujud.
Dinas Kesehatan Kota dan RS Rujukan di wilayah, untuk menjadi inisiator
terbentuknya SPGDT di wilayah Kota Samarinda, termasuk merumuskan sistem
regulasinya
Hadirin yang saya hormati,
Demikianlah sambutan
saya dan akhirnya dengan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga
Pertemuan ini bermanfaat bagi kita semua.
Dengan mengucapkan ”Bismillahirrohmannirrohim” Saya nyatakan
pertemuan Persiapan Implementasi SPGDTS (Sistem Penaggulangan Gawat Darurat
Terpadu Sehari-hari) dibuka secara resmi
Wassalamualaikum
Warahmatullahhiwabarakatuh.
Samarinda 20 Nopember 2013
WALIKOTA
ttd
H. SYAHARIE JAANG, SH, M.Si
| dr. Kusuma Wijayanti |
| Sambutan Walikota Samarinda diwakili Asisten III |
| dr. Dadik Agus Sunyoto, Sp. BA |
LAPORAN
PERSIAPAN SISTEM PENANGANAN GAWAT DARUDAR
TERPADU SEHARI-HARI (SPDGTS) KOTA SAMARINDA
TAHUN 2013
TANGGAL 25 NOVEMBER 2013
A. Latar Belakang
Didalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 – 2014 tertera masalah pelayanan kesehatan
lain yang perlu mendapat perhatian adalah antisipasi kebutuhan pelayanan
kesehatan bagi penduduk di daerah rawan bencana dan didaerah rawan terjadinya
rawan sosial. Letak geografis Indonesia yang terletak di antara dua lempeng
bumi, rawan dengan terjadinya bencana alam. Tantangan ke depan adalah
meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui sarana
dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk merespons dinamika
karakteristik penduduk dan kondisi geografis.
Sejak tahun 2000 Kementerian
Kesehatan RI telah mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu (SPGDT) memadukan penanganan gawat darurat mulai dari tingkat pra rumah
sakit sampai tingkat rumah sakit dan rujukan antara rumah sakit dengan
pendekatan lintas program dan multisektoral. Penanggulangan gawat darurat
menekankan respon cepat dan tepat dengan prinsip Time Saving is Life and Limb
Saving. Public Safety Care (PSC) sebagai ujung tombak safe community adalah
sarana publik/masyarakat yang merupakan perpaduan dari unsur pelayanan ambulans
gawat darurat, unsure pengamanan (kepolisian) dan unsur penyelamatan. PSC
merupakan penanganan pertama kegawatdaruratan yang membantu memperbaiki
pelayanan pra RS untuk menjamin respons cepat dan tepat untuk menyelamatkan
nyawa dan mencegah kecacatan, sebelum dirujuk ke Rumah Sakit yang dituju.
Pelayanan di tingkat Rumah
Sakit Pelayanan gawat darurat meliputi suatu system terpadu yang dipersiapkan
mulai dari IGD, HCU, ICU dan kamar jenazah serta rujukan antar RS mengingat
kemampuan tiap-tiap Rumah Sakit untuk penanganan efektif (pasca gawat darurat)
disesuaikan dengan Kelas Rumah Sakit.
Untuk meningkatkan kemampuan
para pimpinan RS dalam manajemen penanggulangan gawat darurat dan bencana,
Kementerian Kesehatan bersama ikatan profesi dan Persatuan Rumahsakit Seluruh
Indonesia (PERSI) telah mengembangkan pelatihan HOPE (Hospital Preparedness for
Emergency and Disaster) yang sampai saat ini telah diikuti oleh 802 manajemen
rumah sakit. Dengan pelatihan tersebut maka diharapkan semua pimpinan RS dapat
membuat dokumen perencanaan dalam penanggulangan bencana yang biasa disebut
Hospital Disaster Plan (Hosdip) baik bencana di dalam rumah sakit (internal
disaster) maupun bencana di luar rumah sakit (external disaster).
Kota Samarinda yang beriklim tropis
basah, hujan sepanjang tahun. Suhu udara antara 24-32C, dengan curah hujan
rata-rata 162 mm, dan kelembaban udara rata-rata 82,7%. Dan juga Kota Samarinda
dibelah oleh sungai Mahakam. Penduduk
Kota Samarinda sampai bulan Agustus 2013 tercatat sebanyak 950.919 jiwa. Dengan
laju pertumbuhan 3-4% per tahun, yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Hal ini berdampak pada potensial terjadinya
berbagai macam bencana , seperti bencana di air
dan bencana di darat.
Untuk melakukan respon cepat terhadap
kondisi kegawatdaruratan. Ini perlu adanya sistem yang mapan, terorganisir.
Selain itu perlu sumberdaya manusia yang profesional dan didukung regulasi.
SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat darurat Terpadu) telah diterapkan di
beberapa provinsi di Indonesia dan dinilai sangat bermanfaat.
B. PESERTA
Peserta Pertemuan SPDGTS Kota Samarinda Tahun 2013,
sasaran pesertanya adalah :
1. Dinas
Kesehatan Kota Samarinda (20 Orang)
2. Bappeda
Kota Samarinda ( 2 Orang )
3. Rumah
Sakit Kota Samarinda ( 20 Orang)
4. Penanggulangan
Bencana Kota Samarinda ( 2 Orang)
5. Penanggulangan
Bencana Propinsi (2 Orang)
6. Dinkes
Propinsi ( 2 orang )
7. Humas
Pemkot ( 4 orang)
C. TEMPAT
DAN WAKTU
Pertemuan persiapan
SPDGTS dilaksanakan pada tanggal 25
November 2013 di Ruang Pertemuan Wakil
Walikota lantai 2 Samarinda jln. Kusuma Bangsa Samarinda.
D. NARA SUMBER
Narasumber pertemuan persiapan SPDGTS
kota Samarinda terdiri dari :
1.
Dr.Dadik,SpBA ( RSU. AWS)
2.
Yusuf ( PT.Telkom)
3.
Sri
Sedono, M.Kes ( Dinas Kesehatan
Propinsi Kaltim)
F.
BIAYA
Biaya untuk pertemuan ini dibebankan kepada APBD Kota Samarinda melalui
SKPD Dinas Kesehatan tahun anggaran 2013.
A.
HASIL PELAKSANAAN
Dengan kegiatan ini diharapkan adanya pemahaman yang benar
mengenai konsep SPGDT. Selain itu diarahkan untuk mendukung penurunan AKI / AKB
serta sistem rujukan dalam kerangka akselerasi implementasi BPJS 2014 di Kota
Samarinda.
SPGDT ini harus diketahui secara luas
oleh para pengambil kebijakan di tingkat Kota Samarinda ataupun lintas sektor
terkait sekaligus menyusun sistem rujukan yang aplikable dan bisa diterapkan
secara luas. Dinas Kesehatan Kota Samarinda dan Rumah Sakit Rujukan dalam
memerankan terwujudkan SPGDT di Kota Samarinda sangat besar. Untuk itu
pembentukan SPGDT dengan koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan perlu
segera direalisasikan.
Pengembangan SPGDT harus sejalan
dengan Strategi Pembangunan Nasional, yang di dalamnya mengacu pada :
1. Paradigma Sehat yaitu menjaga keseimbangan antara risk
management (upaya promotif dan preventif) dan disease
management (kuratif dan rehabilitatif).
2. Profesionalisme yaitu pengembangan SPGDT berdasarkan standar yang
disepakati secara profesional antara semua stakeholder terkait
dan didukung peran serta masyarakat.
3. Desentralisasi yaitu advokasi dan pemberdayaan daerah untuk
pengembangan SPGDT yang sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan daerah (local
specific).
4. Menata sistem pembiayaan yang efektif dan efisien.
SPGDT merupakan koordinasi berbagai unit
kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi
disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi
penderita gawat darurat dalam keadaan sehari- hari maupun dalam keadaan
bencana
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu (SPGDT) harus diketahui secara luas oleh para pengambil kebijakan di
tingkat Kota Samarinda, Provinsi ataupun lintas sektor terkait sekaligus
menyusun sistem rujukan yang aplikable dan bisa diterapkan secara luas untuk
mendukung BPJS 2014.
Hal yang cukup penting untuk segera
dibentuk dalam mendukung SPGDT adalah terbentuknya call center. Call center
yang perlu diwujudkan di Kabupaten / Kota harus mampu menjawab dan mengarahkan
kondisi kegawatdaruratan yang terjadi, termasuk diimplementasikan untuk
kegawatdaruratan obstetri neonatal (SPGDT-S), untuk menurunkan AKI / AKB.
Call center dalam SPGDT merupakan
keharusan, yang harus segera wujudkan. Unsur penting yang harus tersedia :
sarana komunikasi, SDM yang kompeten, transportasi yang memadai serta dukungan
pembiayaan untuk keberlangsungan operasional SPGDT
Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan
di Kota Samarinda diharapkan juga sudah terbentuk dalam sistem rujukan,
sehingga program SPGDT akan terwujud. Dinas Kesehatan Kota dan RS Rujukan di
wilayah, untuk menjadi inisiator terbentuknya SPGDT di wilayah Kota Samarinda,
termasuk merumuskan sistem regulasinya.
B. PENUTUP
Demikian
Laporan Persiapan SPDGTS Kota Samarinda ini di buat untuk dapat dipergunakan dan apabila
ada kekeliruan dalam laporan ini akan di lakukan perbaikan.
Samarinda,
25 November 2013
Ketua
Panitia
dr. Kusuma Wijayanti,M.Si
Nip.
19740901-200312-2-011